ayah, lihat.
hari ini usiaku bertambah satu.
sembilan belas tahun, hitunganku
sekalipun seperti katamu, berkurang sisa umurku

ayah, aku ingin sekali
membaca ucapan selamat darimu di inbox ku lagi
lalu membalasnya dengan cinta yang penuh

ayah, lihat.
hari ini sudah sembilan belas tahun umurku
dan hari ini, tanggal yang bagus sekali
semuanya berangka sembilan!!
yang seperti katamu dulu, angka keberuntunganku

ayah, ingat tidak?
sepuluh tahun yang lalu,
kau tuliskan angka kenangan ini
” 09-09-99. umur saya 9 tahun”
lalu kita pandangi tulisan itu
berdua, dalam diam

meski dulu aku tak paham
bertambah umur bagiku, berarti bertambah kebahagiaan
jika tahu umur itu yang akan membawamu,
tak akan pernah kunanti pergantian hari

dan ayah,ukiranmu itu masih ada
seringkali aku pandangi, dengan rasa perih

ayah, aku tahu
kita tidak pernah benar-benar dekat
tapi aku tidak paham
dan sungguh tidak paham
kenapa ada yang hilang
kenapa ada yang kurang
sejak kau genapkan perjanjianmu denganNya

ayah, tidak pernah bisa aku katakan
betapa sesungguhnya kau ada
di sini, di dada ini
tidak pernah aku ucapkan
“aku sayang ayah”
seperti sering kubaca di buku cerita

entahlah, ayah
kembali aku tak paham
mungkin aku yang terlalu angkuh
atau kau memang mengajarkanku begitu
bahwa kata-kata, kadang menjadi tidak perlu

ayah, rasanya sakit
sakit sekali
belum sempat aku mewujudkan mimpi-mimpi
belum sempat kuberikan rasa itu
rasa bangga, bahwa kau memiliki aku

ayah, lihatlah
aku sudah sembilan belas tahun
dan masih, ayah
masih perih, saat bayangmu datang lagi

– ditulis pada 09.09.09
di hari ulang tahunku yang ke 19
dengan rasa rindu yang amat dalam
pada dia yang disana
janjiku ayah, akan menjadi seperti mimpimu–