Hari ini saya membaca headline sebuah majalah. “Mungkin kita mencinta sesuatu yang dulunya kita benci”. Ya kira-kira begitulah, saya agak lupa redaksinya. Dan menurut saya, ini benar sekali.

Saya yakin setidaknya kita semua pernah merasakan cinta. Pada apa saja. Pada makhluk, dan juga pada benda mati. Dan tak jarang, kita mencintai sesuatu yang dulunya kita benci.

Tidak usah dulunya. Begini saja, mungkin kita hari ini mendadak menyukai sesuatu yang kemarin kita benci. Baru kemarin saja.

Misalnya, kemarin saya ga suka sate padang. Eh tau-tau hari ini saya maksain nyoba dan akhirnya saya doyan.

Kenapa bisa begitu?

Mungkin penyebabnya ada banyak. Tapi menurut saya, yang tersering adalah karena pada awalnya kita mencipta rasa benci dan cinta ini lebih kepada karena kita belum tahu. karena kita tidak tahu. dan kita hanya ber-asumsi. ASUMSI.

Misalnya lagi nih. Kemarin-kemarin, saya mengagumi seorang kakak senior di kampus. Bagi saya, dia adalah sosok teladan. Akademis oke, pembawaan di lingkungan ok, pun organisasi juga oke.

Lalu hari ini, saya melihat dia tidak memberikan tempat duduk buat ibu-ibu hamil yang se-angkot sama dia.(ceritanya saya juga se-angkot hehe)

Lalu, PYAR! Rasa kagum saya menguap entah kemana. Lenyap. Biasanya saya menyapa bila bertemu, kali ini saya pura-pura tidak kenal.

Sudah. Sudah selesai. Rasa cinta itu menjadi benci.

Ini Cuma contoh yang rada ngaco hehe. Masih banyak lagi, misalnya seorang pendeta yang dulunya amat membenci islam, lalu dia bertobat, mendapat hidayah, dan menjadi pembela islam terdepan.

So, mungkin saja kita sekarang mencintai yang dulunya kita benci. Atau mungkin sebaliknya. Membenci yang dulunya kita cinta.

Pokoknya, menurut saya adalah karena kita terlalu banyak ber-asumsi. Tanpa mau melihat terlebih dahulu. Mungkin terkadang kita terlalu terburu-buru. Men-judge salah satu kepribadian luhur seseorang sehingga kita menganggap dia begitu baiknya padahal kita belum kenal betul tabiatnya. Lalu ketika orang itu berbuat salah, kita kecewa. Padahal, siapa yang salah?

So, intinya..jangan terburu-buru menilai. Satu tindakan tidak mewakili kepribadian utuh seseorang. Asal kamu tahu, saya bisa memilih kepribadian mana yang ingin saya tunjukkan :p

Dan, kembali kepada headline. Cintai seperlunya, benci sekedarnya. Karena bisa jadi, apa yang kamu cintai sekarang adalah yang dulunya kamu benci. Dan bisa jadi, apa yang kamu benci sekarang adalah cinta matimu kemarin.

Mari bermohon kepada Allah, agar selalu memberikan petunjuk kepada kita.. mana yang baik dicinta, mana yang patut dibenci.

Dan cintailah karena Allah, sebagaimana kita membenci karena Allah…