Archive for May, 2010

Saudaraku, tahan amarahmu..

“Orang yang kuat itu bukanlah yang menang dalam bergulat tetapi orang yang kuat adalah yang mampu menahan nafsu amarahnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ternyata, merekalah orang yang terkuat..

Saya mengamati, begitu banyak orang yang tidak bisa menahan amarahnya. Bahkan mungkin saya sendiri pun begitu. Begitu mudah kita marah bahkan hanya untuk hal-hal sepele, hal yang kecil saja. Mungkin kemarahan kita tidak kita lafazkan, mungkin kita tidak berteriak, tidak mengumpat, tetapi dengan raut muka yang masam dan caci maki di hati, apa bedanya??

Tidak sengaja kaki terinjak oleh orang-orang di antrian, kita marah. Teman kita tidak memperhatikan apa yang kita ucapkan, kita marah. Jalanan macet, kita marah. Dosen ngaret, kita marah. Pengemis mengiba sampai sedikit mengganggu, kita marah.

astaghirullaah..

Siapakah kita?

Rasulullah saja tidak pernah marah untuk hal-hal sepele semacam ini. Saat seorang arab badui kencing di masjid, apakah Beliau marah? saat Beliau dilempari kotoran oleh orang-orang musyrik, apakah Beliau marah? Tidak sama sekali.

Suatu saat Ibnu Mas‘ud ra berkata,

Rasulullaah SAW bercerita tentang seorang nabi dari nabi-nabi terdahulu. Nabi tersebut dipukul oleh kaumnya sehingga wajahnya mengucurkan darah. Nabi tersebut mengusap darah di wajahnya sambil berkata, ‘Ya Allaah, ampunilah kaumku ini karena mereka memang tidak mengerti (HR. Bukhori dan Muslim)

Subhanallah..indahnya jika banyak orang di dunia ini mampu menahan amarahnya. Teladanilah Rasulullaah, Beliau hanya akan marah pada hal-hal yang juga dibenci oleh Allah, Beliau hanya akan marah pada apa saja yang akan membuat Allah murka. Cara beliau marah-pun, tentu saja jauh lebih mulia dari perangai kita.

Apakah marah yang tidak jelas seperti yang sering dilakukan orang-orang bahkan mungkin kita juga akan membuat kita menjadi superior? Apakah marah membuat kita menjadi lebih hebat? Tidak ada yang sependapat, saya kira. Marah hanya akan memperlihatkan kekerdilan akhlak. Hanya akan memperlihatkan ke-tidak stabilan dan belum matangnya pemikiran.

Adakah gunanya marah?

Perihal marah ini sepertinya sangat sepele. Tetapi, ternyata bisa berakibat fatal juga lo. Bisa merusak ukhuwah, bisa membuat pandangan orang terhadap kita menjadi berubah, bisa menyulut api permusuhan berikutnya, bahkan bisa berujung kepada pembunuhan, dan masih banyak lagi. Tentunya kita pernah melihat adegan marah tak layak  yang banyak dipertontonkan, entah itu di dunia persinetronan ataukah adegan nyata di sidang-sidang para pejabat terhormat.

Adakah manfaatnya? tidak ada sama sekali. menghilangkan rasa kesal pun tidak.

Lalu apa kita tidak boleh marah?

Marah memanglah sifat manusiawi, tetapi ia harus kita kontrol, harus kita latih, agar penempatannya sesuai koridor syar’i. Kita boleh marah, jika ada yang menghina Allah atau Nabi kita. Kita boleh marah, jika ada yang menghina agama kita. Tetapi perlukah kita marah kalau ada teman yang membantah pendapat kita? Kalau ada barang kita yang tertinggal di taksi karena keteledoran teman kita? Tentu tidak ada faedahnya.

Syeikh Imam al-Ghazali, dalam Kitab Ihya’ Ulumuddin nya mengatakan, “Barangsiapa tidak marah, maka ia lemah dari melatih diri. Yang baik adalah, mereka yang marah namun bisa menahan dirinya.”

Ternyata marah adalah hal yang dibolehkan. Tinggal bagaimana kita mengekspresikan rasa marah tersebut dan juga karena apa kita marah. Menahan amarah memang susah, tapi sungguh, tidak perlu kita membesar-besarkan suatu hal. Kalau memang kita tidak suka, ya sudah biarkan saja. Tenang saja, dunia ini cuma sebentar, kok! tidak usah terlalu pusing.

Lagipula, menahan marah adalah wasiat dari Baginda Rasul, lho..

“Dari Abu Hurairah r.a, bahwa seseorang berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam: Berwasiatlah kepadaku. Beliau bersabda: Jangan menjadi seorang pemarah. kemudian diulangi beberapa kali. dan Beliau bersabda: Janganlah menjadi orang pemarah” (HR. Bukhori)

Lantas harus bersikap seperti apa?

Saudaraku, jika ada hal-hal yang memang tidak menyenangkan buatmu, terimalah. Jika ada yang menghujat, biarkanlah dulu. Jika ada yang memfitnah lalu orang-orang menjadi berprasangka, diamkan saja. Bukankah Rasul telah mencontohkan?

Lalu berpikir baiklah. Berprasangka mulialah. Mungkin itu semua hanya karena ketidaksengajaan dan ketidaktahuan mereka.

Jika semua itu menyakiti hatimu, dan kamu benar-benar hendak marah, tahan. Tahan. Bernapaslah yang dalam, dan duduklah. Tenangkan dan berpikirlah secara luas. Berwudhulah. Beristigfarlah. Lalu maafkanlah, apapun yang sudah dilakukan oleh mereka.

Perlahan, lupakan kesalahan orang lain. Tidak usah diingat dan diungkit lagi, karena hanya akan membangkitkan rasa marah itu kembali. Pikirkanlah, marah hanya akan memperpanjang persoalan dan menghabiskan tenaga, lebih baik kita menyelesaikan banyak urusan lain yang jauh lebih penting.

Mengadulah kepada-Nya, Dia akan menjawab segala gelisahmu. Transformasikan amarah  menjadi energi yang disalurkan kepada hal yang bermanfaat, agar kita  menjadi lebih baik. Jadilah orang yang kuat. Jadilah orang yang membenci sesuatu bukan karena hawa nafsu, tetapi karena Allah semata.

Karena marah hanyalah godaan syetan. Karena marah hanyalah akan menjadi jalan menuju dosa. Karena marah akan menjadi pemutus silaturahmi. Karena marah hanyalah akan menjadi titik hitam dalam hati.

Masih ragu menahan amarah?

Simak apa janji Allah SWT disini..

Al Imam Ahmad meriwayatkan hadits dari Anas Al Juba’i , bahwa Rasulullah Saw bersabda : “Barangsiapa yang mampu menahan marahnya padahal dia mampu menyalurkannya, maka Allah menyeru pada hari kiamat dari atas khalayak makhluk sampai disuruh memilih bidadari mana yang mereka mau.” (HR. Ahmad dengan sanad hasan)

yuk, berusaha menjadi orang terkuat..yang mampu mengendalikan amarah, mampu melupakan kesalahan yang lain dan tentu saja mudah memaafkan..

* ditulis setelah menyaksikan kemarahan dari beberapa orang akhir-akhir ini..Rabbi..jagalah hatiku..jagalah hatiku..

untuk yang pernah mendapatkan kemarahan dari saya, maafkan ya ^_^

Kisah Kehidupan dan Kematian…

..Nampaknya kematian masih saja menghantui benakmu. Kamu membayangkan kematian ada dimana-mana, bersembunyi dibalik setiap yang ada. Bagimu, ia seolah-olah suatu kekuatan dahsyat yang mengancam kehidupan dan semua yang hidup. Sehingga jika dibandingkan kematian, kamu melihat kehidupan ini sebagai sesuatu yang kecil, namun menggelisahkan dan menakutkan.

Secara pribadi, kulihat kematian bagai kekuatan kecil dan letih disisi kekuatan
kehidupan yang meluap-luap, bergejolak, dan riuh gemuruh. Kematian nyaris tidak berdaya untuk berbuat sesuatu, kecuali mencomot sisa-sisa yang terjatuh di meja makan tipu daya untuk dimangsanya.
Jangkauan kehidupan yang melimpah itu, berpekik riuh dari setiap sudut
disekelilingku. Semua nampak tumbuh, mekar dan berkembang. Ibu-ibu mengandung dan melahirkan, demikian juga hewan. Burung, ikan dan serangga melepaskan telurnya dan kemudian telur-telur itu mentas menjemput kehidupan dan makhluk hidup lainnya.

Bumi merekah, mengeluarkan tumbuh-tumbuhan, kemudian berkembang dan berbuah.
Langit mencurahkan hujan, lautan menggulung-gulungkan gelombangnya. Semua yang ada di permukaan bumi tumbuh, dan berkembang biak.
Sesekali kematian menerkam dan merobek-robek mangsanya, lalu pergi. Atau adakalanya ia bersembunyi mengintai makanan yang jatuh dari meja makan kehidupan untuk dimangsanya. Sementara kehidupan berjalan terus, penuh semangat menyala-nyala, seolah-olah tidak melihat kematian itu.

Memang adakalanya kehidupan itu berteriak kesakitan, yaitu ketika kematian
menerkam dan mengoyak tubuhnya. Akan tetapi, alangkah cepat sembuhnya luka-luka itu, dan alangkah cepatnya teriak kesakitan itu berubah menjadi teriak suka cita.

Manusia, hewan, burung, ikan, ulat, serangga, rumput dan pepohonan, semuanya berdesakan memenuhi permukaan bumi ini dengan kehidupan dan makhluk hidup. Sedangkan kematian bersembunyi disudut sana, menerkam mangsanya dan berlalu…atau menantikan sisa makanan yang jatuh dari meja makan kehidupan untuk dimangsanya.

Matahari terbit dan terbenam, bumi berputar-putar di porosnya, sementara
kehidupan mereka disana-sini. Segala sesuatu berkembang, berkembang dalam ragam dan macamnya, berkembang dalam kualitas dan kuantitasnya. Kalau sekiranya kematian itu mampu melakukan sesuatu, pastilah kafilah kehidupan ini akan terhenti. Ternyata ia hanya suatu kekuatan kecil dan letih, disamping kekuatan kehidupan yang meluap-luap, bergejolak dan riuh gemuruh.
Bersumber dari kekuatan Allah yang Maha Hidup, kehidupan itu merekah dan
menyebar…

(dikutip dari Risalah ila Ukhti al-Muslimah, Risalah untuk Ukhti Muslimah – Sayyid Quthub)

yang mau baca lebih lanjut, mangga download http://blog.re.or.id/free-download-ebook/pdf/risalah_untuk_ukhti_muslimah-sayid_quthb.htm

Jilbab: Pakaian Modern Berkarakter Positif

oleh Ria Fariana

taken from :www.voa-islam.com

Satu kali, sebuah situs tentang cewek memberikan tips bagaimana caranya tampil PD dengan tank top meskipun lengan tangan besar. Saya pun merespon bahwa berpakaian menutup aurat (kerudung plus jilbab) adalah solusi cerdas bagi cewek tanpa harus meributkan ukuran lengan. Kelanjutannya adalah masing-masing bertahan pada pendapatnya. Situs tersebut menyatakan bahwa kita harus menghargai pilihan orang dalam memilih pakaian. Saya pun tidak keberatan karena pendapat tentang kerudung dan jilbab itu juga pendapat pribadi sebagai seorang perempuan.

Sobat muslimah, dari sedikit uraian di atas terlihat bahwa ada sebuah ketidakpedulian di kalangan kita. Ketika kita mengatakan bahwa solusi berpakaian seorang perempuan adalah dengan jilbab dan kerudung, seolah-olah kita dituding tidak menghargai gaya berbusana orang lain. Padahal, seringkali mereka yang tidak menutup aurat itulah yang tidak menghargai busana muslimah dengan jilbab dan kerudungnya.

Kamu masih ingat kan kasus jilbab sekitar tahun 90-an? Kalau gak ingat, boleh kok tanya ke ortu, kakak atau tante kamu. Saat itu muslimah berjilbab diusir dari kelas sekolah negeri karena mempertahankan diri untuk menutup auratnya. Okelah, itu tahun jadul (jaman dulu). Kasus yang baru-baru saja terjadi adalah presenter salah satu TV swasta bernama Sandrina Malakiano. Presenter yang akhirnya memutuskan menutup aurat dengan busana muslimah ini dilarang tampil di depan layar TV lagi dengan berbagai dalih.

Jadi, dari contoh dua kasus di atas bisa terlihat sebetulnya siapa yang tidak menghargai siapa. Apabila seseorang mengakui dirinya sebagai muslimah, maka sudah ada aturan khusus tentang tata cara berpakaiannya. Jadi tidak bisa semau gue atas nama kebebasan memilih atau bahkan memakai dalih HAM.

Cara berbusana cewek modern

Sobat muslimah, banyak orang salah mengira kalau modern itu adalah berpakaian yang mengumbar aurat. Tank top, rok mini, you can see (everything?), bahkan pusar pun diobral adalah gaya berbusana cewek modern. Orang yang berpendapat begini pasti sedang mabok. Coba deh kamu perhatikan film kartun Flinstone yang settingnya adalah zaman batu. Atau mungkin film Robin Hood dan Xena yang settingnya adalah zaman kuno abad pertengahan. Baju yang dipakai di sana sangat minim, hampir semua aurat terutama pemeran cewek diobral semua.

…banyak orang salah mengira kalau modern itu adalah berpakaian yang mengumbar aurat: tank top, rok mini, you can see (everything?), bahkan pusar pun diobral adalah gaya berbusana cewek modern. Orang yang berpendapat begini pasti sedang mabok…

Trus, gimana donk dengan beberapa suku di Indonesia yang pakaian tradisionalnya adalah koteka semisal suku Asmat? Coba deh kamu lihat, bagaimana kehidupan dan tingkat berpikir suku tersebut. Seharusnya menjadi tugas bersama untuk membina suku-suku pedalaman yang masih awam terhadap Islam dan hukum menutup aurat. Bukan malah dijadikan tontonan dengan alasan melestarikan budaya bangsa. Kasihan mereka. Bayangkan bila kamu yang di posisi mereka berpakaian minim kemudian menjadi bahan tontonan. Pasti rasanya tak nyaman.

Tak ada orang yang bilang kalo mereka hidup di zaman modern. Yang ada adalah mereka hidup di zaman batu, kuno, jadul dan yang utama jahiliyah alias bodoh. Yang namanya modern adalah ketika manusia itu jelas bedanya dengan binatang yaitu ketika akalnya dimanfaatkan secara sempurna. Akal inilah yang menuntun manusia untuk mempunyai malu dan iman. Jika malu dan iman ada maka otomatis manusia akan memilih busana yang menutup aurat sebagai gaya berbusananya.

Hal ini pas banget dengan apa yang diperintahkan oleh Allah dalam QS. An-Nur: 31 dan Al-Ahzab: 59 bahwa kerudung dan jilbab adalah pakaian muslimah bila mereka keluar rumah. Rasional dan masuk akal, itulah ciri-ciri Islam. Termasuk juga dalam mengatur cara berbusana perempuan, Islam jauh lebih modern daripada agama ataupun ideology mana pun di dunia ini. Ini karena memang Islam diturunkan oleh yang Mahamenciptakan manusia sendiri, jadi Ia pula yang berhak mengaturnya pula.

Di atas semua itu, modern atau tidaknya seseorang bisa dilihat dari pola pikirnya. Pola pikir inilah yang akan menentukan pola sikap dia termasuk dalam hal memilih pakaian. Jadi meskipun gelar selangit, rumah di kawasan elit, mobil keluaran terbaru tapi memakai rok mini dan tank top, sudah langsung bisa dilihat kualitas pola pikirnya. Semua materi duniawi yang disebutkan tersebut cuma aksesoris saja, tidak menyentuh intinya.

Jilbab, pakaian modern

Gals, jilbab itu pakaian perempuan modern dan beradab. Dari busana ini pula, terlihat identitas seseorang apakah ia muslimah atau bukan. Jilbab adalah pakaian takwa yang merupakan bukti tunduknya seorang hamba kepada penciptanya. Siapa saja yang memperolok pakaian takwa ini, itu artinya ia juga memperolok Sang Pencipta yang menurunkan aturan tersebut. Naudzubillah.

…jilbab itu pakaian perempuan modern dan beradab. Dari busana ini pula terlihat identitas apakah ia muslimah atau bukan. Jilbab adalah pakaian takwa…

Tak jarang muslimah berjilbab mendapat cobaan berupa suara-suara miring semisal disebut ‘sok alim-lah’, ‘sok suci’, dan berbagai sebutan lainnya. Biar saja, Non. Daripada juga menjadi orang yang sok kafir dan menjadi pembangkang perintah Allah, itu jauh lebih buruh dan hina untuk dilakukan. Cuekkin saja komentar-komentar tak penting seperti itu.

Sedangkan bagi kamu yang masih belum berkerudung (apalagi belum berjilbab) karena satu dan lain hal, mulai saat ini niatkan dirimu untuk berubah. Kamu tak akan pernah tahu kapan tibanya sang ajal. Gak usah menunggu berjilbab ketika sudah menikah. Atau bahkan ada juga yang bernazar untuk berjilbab ketika keterima di perguruan tinggi negeri (PTN). Lalu apabila tidak keterima di PTN, kewajibab berjilbab tersebut bisa gugur? Tentu saja tidak.

Yang namanya wajib ya wajib saja hukumnya, tidak usah menunggu persyaratan tertentu semisal kalau keterima di PTN. Bila pun misalnya cewek itu ketrima di PTN, maka itu artinya niatnya tidak karena Allah, tapi karena sekadar memenuhi nazar saja. Bukannya tidak mungkin, dia berjilbabnya juga setengah hati karena salahnya niat sedari awal. Di tengah jalan, ia akhirnya membuka jilbabnya dan kembali umbar aurat sebagaimana orang-orang kafir bersikap.

Sobat muslim, berjilbab itu indah. Tapi bukan karena lantas terlihat indah ini kita mau berjilbab. Betapa banyak perempuan berjilbab karena setelah mematut diri di depan cermin, mereka merasa lebih cantik. Jadi ketika berjilbab membuat dirinya tidak terlihat cantik, maka orang semacam ini tidak akan mau berjilbab. Banyak sekali ungkapan yang menyatakan enggan berjilbab karena pakaian tersebut hanya akan membuat dirinya terlihat gemuk dan tidak menarik. Meskipun tahu bahwa jilbab adalah perintah Allah, mereka lebih mementingkan apa kata manusia daripada kata-kata atau firman Allah. Semoga kamu bukan tipe perempuan seperti ini.

…berjilbab itu indah. Tapi bukan karena lantas terlihat indah ini kita mau berjilbab…

Berjilbab, mutiara dalam etalase

Perempuan berjilbab ibarat mutiara indah dalam etalase. Orang yang lalu-lalang bisa melihat tanpa bisa menyentuh, apalagi menodai. Mutiara ini hanya bisa dibeli dengan harga mahal dan seizin penjualnya. Tak jarang mutiara dalam etalase ini dilengkapi dengan kunci pengaman agar terjaga kemurniannya.

Bandingkan dengan perempuan yang tidak berjilbab. Mereka ini ibarat mutiara yang diobral di kaki lima. Semua orang tidak hanya bisa melihat, tapi juga menyentuhnya. Tak jarang tangan-tangan yang menyentuh mutiara tersebut ternyata bernoda sehingga membuat si mutiara tak lagi putih cemerlang. Cacat-cela pun hinggap di permukaannya yang indah. Bila si penjual lengah, bisa jadi ada maling yang menyusup dan mencuri mutiara itu dari tempatnya berada.

…Perempuan berjilbab ibarat mutiara indah dalam etalase. Perempuan yang tidak berjilbab ibarat mutiara yang diobral di kaki lima…

Kedua perumpamaan di atas menunjukkan betapa mulia dan terjaganya perempuan muslimah yang berjilbab. Harga yang harus ditebus bagi orang yang ingin memiliki mutiara di etalase dengan kaki lima juga tak sama. Mutiara dalam etalase berharga mahal, bahkan seluruh mata uang di dunia ini tak bisa membelinya. Mutiara ini hanya bisa dibeli dengan taruhan nyawa dan pertanggungjawaban dunia akhirat. Nilainya pun dihargai Allah dengan imbalan surga.

Ya, mutiara dalam etalase adalah muslimah berjilbab yang hanya bisa disentuh oleh laki-laki beriman yang berani mengucapkan akad nikah di depan wali dan saksi. Nama Allah sebagai jaminan bahwa laki-laki ini akan menjaga si muslimah hingga kelak dipertanggungjawabkan di hadapan pengadilan-Nya. Mutiara ini terjaga kehormatan dan harga dirinya, setara dengan upayanya untuk tunduk pada aturan-Nya pula.

Mutiara kaki lima, kita semua sudah tahu bagaimana nasibnya. Di antara kedua pilihan ini, muslimah cerdas pastilah tahu harus memilih yang mana. Karena sudah sunnatullah bahwa Allah akan memasangkan wanita baik-baik dengan laki-laki yang baik pula, begitu sebaliknya (QS. An-Nur: 36). Ini adalah janji Allah. Tapi seorang muslimah salihah bukan tujuan tersebut yang menjadi incarannya. Ridha Allah adalah segalanya di atas semua tujuan.

Jadi, mulai sekarang luruskan niatmu bila sebelumnya ada niat lain mengotori keputusanmu untuk berjilbab. Oya, kalo baru sebatas bisa berkerudung, tingkatkan untuk bisa mengenakan kerudung plus jilbabnya (semacam baju kurung yang longgar, lebar dan tebal). Yakin deh, niat-niat duniawi itu umurnya tidak bertahan lama. Betapa banyak muslimah yang berjilbab karena sekadar ingin agar segera bisa bersuami, setelah nikah menanggalkan kerudung bahkan jilbabnya. Na’udzubillah.

Atau mungkin berjilbab karena supaya mudah dapat pekerjaan karena akhir-akhir ini banyak perusahaan yang lebih menyukai perempuan berpakaian sopan. Bila ini tujuannya, yakin deh ketika di rumah, perempuan seperti ini pasti dengan mudah umbar aurat karena tidak di lingkungan kerja lagi.

Namun bila yang menjadi tujuan adalah ridha Allah semata, apa pun halangan dan rintangan yang menghadang karena keputusannya dalam berjilbab, hal itu tak akan menggoyahkannya. Sebaliknya, ia akan semakin tegar dalam mempertahankan identitasnya sebagai muslimah berjilbab.

…berjilbab itu ternyata keren karena menunjukkan karakter positif seorang perempuan yang punya prinsip. Jangan pernah diombang-ambingkan tren mode berbusana jahiliyah berkedok modern…

Jadi sobat muda muslimah, berjilbab itu ternyata keren karena menunjukkan karakter positif seorang perempuan yang punya prinsip. Kamu tak akan pernah diombang-ambingkan oleh tren mode berbusana jahiliyah berkedok modern. Karena trend berjilbab adalah mode busana everlasting yang tak akan lekang oleh zaman. Oleh karena itu, tak ada pilihan lain bagi seorang perempuan yang sudah mengazzamkan diri atau bertekad kuat menjadi seorang muslimah kecuali berbusana sesuai dengan yang ditentukan oleh Islam. So, ayo berjilbab mulai sekarang! Sip deh ^_^