“Orang yang kuat itu bukanlah yang menang dalam bergulat tetapi orang yang kuat adalah yang mampu menahan nafsu amarahnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ternyata, merekalah orang yang terkuat..

Saya mengamati, begitu banyak orang yang tidak bisa menahan amarahnya. Bahkan mungkin saya sendiri pun begitu. Begitu mudah kita marah bahkan hanya untuk hal-hal sepele, hal yang kecil saja. Mungkin kemarahan kita tidak kita lafazkan, mungkin kita tidak berteriak, tidak mengumpat, tetapi dengan raut muka yang masam dan caci maki di hati, apa bedanya??

Tidak sengaja kaki terinjak oleh orang-orang di antrian, kita marah. Teman kita tidak memperhatikan apa yang kita ucapkan, kita marah. Jalanan macet, kita marah. Dosen ngaret, kita marah. Pengemis mengiba sampai sedikit mengganggu, kita marah.

astaghirullaah..

Siapakah kita?

Rasulullah saja tidak pernah marah untuk hal-hal sepele semacam ini. Saat seorang arab badui kencing di masjid, apakah Beliau marah? saat Beliau dilempari kotoran oleh orang-orang musyrik, apakah Beliau marah? Tidak sama sekali.

Suatu saat Ibnu Mas‘ud ra berkata,

Rasulullaah SAW bercerita tentang seorang nabi dari nabi-nabi terdahulu. Nabi tersebut dipukul oleh kaumnya sehingga wajahnya mengucurkan darah. Nabi tersebut mengusap darah di wajahnya sambil berkata, ‘Ya Allaah, ampunilah kaumku ini karena mereka memang tidak mengerti (HR. Bukhori dan Muslim)

Subhanallah..indahnya jika banyak orang di dunia ini mampu menahan amarahnya. Teladanilah Rasulullaah, Beliau hanya akan marah pada hal-hal yang juga dibenci oleh Allah, Beliau hanya akan marah pada apa saja yang akan membuat Allah murka. Cara beliau marah-pun, tentu saja jauh lebih mulia dari perangai kita.

Apakah marah yang tidak jelas seperti yang sering dilakukan orang-orang bahkan mungkin kita juga akan membuat kita menjadi superior? Apakah marah membuat kita menjadi lebih hebat? Tidak ada yang sependapat, saya kira. Marah hanya akan memperlihatkan kekerdilan akhlak. Hanya akan memperlihatkan ke-tidak stabilan dan belum matangnya pemikiran.

Adakah gunanya marah?

Perihal marah ini sepertinya sangat sepele. Tetapi, ternyata bisa berakibat fatal juga lo. Bisa merusak ukhuwah, bisa membuat pandangan orang terhadap kita menjadi berubah, bisa menyulut api permusuhan berikutnya, bahkan bisa berujung kepada pembunuhan, dan masih banyak lagi. Tentunya kita pernah melihat adegan marah tak layak  yang banyak dipertontonkan, entah itu di dunia persinetronan ataukah adegan nyata di sidang-sidang para pejabat terhormat.

Adakah manfaatnya? tidak ada sama sekali. menghilangkan rasa kesal pun tidak.

Lalu apa kita tidak boleh marah?

Marah memanglah sifat manusiawi, tetapi ia harus kita kontrol, harus kita latih, agar penempatannya sesuai koridor syar’i. Kita boleh marah, jika ada yang menghina Allah atau Nabi kita. Kita boleh marah, jika ada yang menghina agama kita. Tetapi perlukah kita marah kalau ada teman yang membantah pendapat kita? Kalau ada barang kita yang tertinggal di taksi karena keteledoran teman kita? Tentu tidak ada faedahnya.

Syeikh Imam al-Ghazali, dalam Kitab Ihya’ Ulumuddin nya mengatakan, “Barangsiapa tidak marah, maka ia lemah dari melatih diri. Yang baik adalah, mereka yang marah namun bisa menahan dirinya.”

Ternyata marah adalah hal yang dibolehkan. Tinggal bagaimana kita mengekspresikan rasa marah tersebut dan juga karena apa kita marah. Menahan amarah memang susah, tapi sungguh, tidak perlu kita membesar-besarkan suatu hal. Kalau memang kita tidak suka, ya sudah biarkan saja. Tenang saja, dunia ini cuma sebentar, kok! tidak usah terlalu pusing.

Lagipula, menahan marah adalah wasiat dari Baginda Rasul, lho..

“Dari Abu Hurairah r.a, bahwa seseorang berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam: Berwasiatlah kepadaku. Beliau bersabda: Jangan menjadi seorang pemarah. kemudian diulangi beberapa kali. dan Beliau bersabda: Janganlah menjadi orang pemarah” (HR. Bukhori)

Lantas harus bersikap seperti apa?

Saudaraku, jika ada hal-hal yang memang tidak menyenangkan buatmu, terimalah. Jika ada yang menghujat, biarkanlah dulu. Jika ada yang memfitnah lalu orang-orang menjadi berprasangka, diamkan saja. Bukankah Rasul telah mencontohkan?

Lalu berpikir baiklah. Berprasangka mulialah. Mungkin itu semua hanya karena ketidaksengajaan dan ketidaktahuan mereka.

Jika semua itu menyakiti hatimu, dan kamu benar-benar hendak marah, tahan. Tahan. Bernapaslah yang dalam, dan duduklah. Tenangkan dan berpikirlah secara luas. Berwudhulah. Beristigfarlah. Lalu maafkanlah, apapun yang sudah dilakukan oleh mereka.

Perlahan, lupakan kesalahan orang lain. Tidak usah diingat dan diungkit lagi, karena hanya akan membangkitkan rasa marah itu kembali. Pikirkanlah, marah hanya akan memperpanjang persoalan dan menghabiskan tenaga, lebih baik kita menyelesaikan banyak urusan lain yang jauh lebih penting.

Mengadulah kepada-Nya, Dia akan menjawab segala gelisahmu. Transformasikan amarah  menjadi energi yang disalurkan kepada hal yang bermanfaat, agar kita  menjadi lebih baik. Jadilah orang yang kuat. Jadilah orang yang membenci sesuatu bukan karena hawa nafsu, tetapi karena Allah semata.

Karena marah hanyalah godaan syetan. Karena marah hanyalah akan menjadi jalan menuju dosa. Karena marah akan menjadi pemutus silaturahmi. Karena marah hanyalah akan menjadi titik hitam dalam hati.

Masih ragu menahan amarah?

Simak apa janji Allah SWT disini..

Al Imam Ahmad meriwayatkan hadits dari Anas Al Juba’i , bahwa Rasulullah Saw bersabda : “Barangsiapa yang mampu menahan marahnya padahal dia mampu menyalurkannya, maka Allah menyeru pada hari kiamat dari atas khalayak makhluk sampai disuruh memilih bidadari mana yang mereka mau.” (HR. Ahmad dengan sanad hasan)

yuk, berusaha menjadi orang terkuat..yang mampu mengendalikan amarah, mampu melupakan kesalahan yang lain dan tentu saja mudah memaafkan..

* ditulis setelah menyaksikan kemarahan dari beberapa orang akhir-akhir ini..Rabbi..jagalah hatiku..jagalah hatiku..

untuk yang pernah mendapatkan kemarahan dari saya, maafkan ya ^_^