Begitulah senantiasa.

Segala keputusasaan, segala kepasrahan, menyeruak dari persembunyian.

Entah dimana ia berdiam dulu

Awalnya mengintip malu-malu.

Lalu sekarang tegak berdiri dengan sombongnya.

Begitulah senantiasa.

Sudah lama saya mencoba bertahan..

Memaksakan diri, ber-sugesti bahwa esok akan selalu baru

Tapi pemikiran-pemikiran itu..berkelebat di kepala sepanjang waktu

Begitulah senantiasa.

Hari-hari ini, otak saya seperti terprogram untuk berpikir seandainya..seandainya..dan seandainya…

Saya sudah terlalu merindukan damai yang nyata

Dan hari-hari ini,

Keputusaasaan dan kepasrahan itu, menggeliat, menyeringai, lalu bersemayam semakin dalam..

Begitulah senantiasa.