“…karena anandalah permata ibunda yang paling berharga..”

Kembali terngiang di kepalaku, pesan singkat dari ibunda tersayang itu, sekitar 1 minggu lalu.

Hari itu hari jum’at, jam berapa aku lupa, yang jelas masih pagi nian. belum lagi azan subuh. mataku yang masih terasa berat pelan-pelan membuka. seperti biasa, kulirik HP, ingin tau jam berapa saat ini.

Tertera jelas di situ :
1 new message
from:Ibuk

Kubuka pesan itu. naluriku mengatakan, itu sms harian dari ibu, yang memang rutin beliau kirim. entah membangunkan sholat, entah menasihati agar rajin belajar, atau sekedar memberitakan sesuatu.
tapi hari itu ada yang beda. sebaris kata-kata yang membuat tubuhku bergetar lalu menangis dalam diam.

Salah satu kalimatnya berbunyi :
“…karena anandalah permata ibunda yang paling berharga..”

Aku tertegun. segera bangkit dari tempat tidur, duduk termenung.
lalu kuulangi membacanya, lagi dan lagi.
suara hujan rintik di luar menandakan gerimis. Dan akupun merasakan yang sama, gerimis di hatiku.
lalu lama..lama sekali aku berdiam dengan HP ditangan. hening.

Tanpa sadar, air mata turun, deras sekali.
aku bukan menangis karena terharu, bukan. karena bukan cuma sekali-dua kali ibu menasihatiku dengan kata-kata yang puitis nan indah seperti ini. bukan karena terharu.

Tetapi lebih karena rasa sedih. Karena dadaku terasa panas, nyeri, dan sesak.

Bagaimana bisa ibu tahu? Atau pertanyaan yang lebih tepat, bagaimana ibu bisa selalu tahu? bahwa saat itu aku sedang berada dalam episode malas, sindrom yang memang rutin datang, entah sekian hari sekali, kadang mingguan, kadang bulanan.

Hari-hari itu, berulang kali aku mengeluh, mengeluh tentang betapa aku merindukan ibu. Betapa aku ingin tinggal bersamanya. Membuat sarapan untuknya, menyiapkan keperluannya, membantu pekerjaannya, mengingatkan ibu makan karena ibu sering terlupa, dan memeluknya dalam lelap.

Bagaimana ibu bisa tahu, bahwa hari-hari itu aku kehilangan semangat. Hari-hari berlalu begitu saja. siang lalu malam, lalu kembali siang.

Ah, ibu selalu tahu.

Dan kembali penyesalan itu datang…
Andai, andai saja aku bisa memutar waktu..

Ok, mungkin sedikit cerita ya🙂

Aku adalah anak kedua di keluarga, anak perempuan satu-satunya. Masa kecil hingga SMP, kuhabiskan di rumah, lengkap bersama seluruh anggota keluargaku.

Ibu adalah wanita pekerja. Sebab itulah, sejak kecil aku terbiasa “tidak dengan ibu”. Yang kuingat, hanya beberapa kali ibu mengantarku ke TK, selebihnya diantar oleh pengasuhku yang kupanggil “cik Rat”. Bukan pengasuh resmi sih, tapi cik Rat-lah yang membantu ibu menjaga dan mengantar jemput ke sekolah. Selanjutnya di masa SD dan SMP tentu saja aku berangkat sendiri.

Seingatku, aku tumbuh menjadi anak bungsu yang egois :p apa-apa harus diturutin, saat itu juga, bagaimanapun caranya. Alhamdulillah nantinya di awal masa SMP aku dikaruniai satu adik, sehingga aku bisa merasakan pusingnya menjadi kakak dan perlahan berlatih mengurangi keegoisanku🙂

Walau ibu bekerja, tapi beliau masih sempat sesekali memasak. Apalagi kalau aku dan kakak sedang ujian, atau sedang akan ikut suatu perlombaan, wah ibu akan sangat bersemangat menyiapkan makanan terenak favorit kami masing-masing. Beliau akan berpeluh memasak dengan tangannya sendiri.

Kalau aku ikut lomba di luar kota selama beberapa hari dan harus menginap, ibu selalu menyempatkan datang mengunjungi, membawakan makanan, dan bertanya ini itu kepada bapak/ibu guru yang menemaniku. Menitip pesan ini itu. Mengingatkanku ini itu. Dan sering sekali, aku tidak mendengarkan. Bukan tidak dengar, aku memang Tidak Mau dengar. hehe sepertinya waktu itu tidak semua perkataan ibu kuanggap penting :p

Jadi, di masa SD kuhabiskan waktuku untuk main dengan teman SD, teman mengaji, tetangga, atau pergi mengaji, pergi ke sekolah, mengerjakan PR, belajar bersama dengan teman sekolah (asli beneran belajar loo hehe ), dan ikut les bahasa inggris. Jarang sekali bermanja-manja dengan ibu. Hanya sesekali. Di benakku saat itu sepertinya kalau masih nempel-nempel ibu itu artinya sangat manja, tidak dewasa. Belakangan aku tahu bahwa anak-anak itu memang sewajarnya manja kepada ibunya😦

Oia, untuk yang sudah membaca sampai ke barisan ini, mohon maaf ya. Aku sadar sekali tulisan ini tidak memenuhi standar. Tidak jelas mana inti kalimat, mana ide utama, dan sebagainya. Harap maklum, menulisnya hanya untuk menumpahkan emosi. Bukan mau ikut lomba hehe :p

Oke, lanjut.

Menginjak masa SMP, aku menjadi semakin tidak dekat dengan ibu. Pagi hari pergi mengaji, atau membuat PR, atau pergi les. Siang hari pergi ke sekolah, sampai rumah menjelang maghrib. Malam-malam mengerjakan PR, membaca majalah, menonton TV, bermain (baca: mengganggu) dengan adik laki-laki yang lahir di hari pendaftaran SMP ku, dan tidur lah ya tentu saja. Dan sesekali bekerja di dapur dan di sumur juga hehe. Semakin, semakin jarang aku bergelayut manja di pangkuan ibu. Ibu tidak bertambah sibuk, masih seperti itu-itu saja, tapi saat itu ada adik yang selalu bersama ibu, sehingga aku semakin malas dekat-dekat ibu. Tuhan, sungguh tidak dewasa dan bodoh😦

Ibu rutin mengingatkanku sholat, menanyakan perkembangan sekolah dan les, perkembangan mengajiku, menanyakan update info teman-temanku, menyuruhku belajar, menyuruhku memisahkan kegiatan makan dan membaca yang selalu kulakukan bersamaan(yang sampai saat ini belum bisa kuhilangkan kecuali kalau makan di tempat umum hehe).

Ibu bertambah tua. Bertambah berat bebannya. Bertambah ubannya. Bertambah keriputnya. Masa SMP ku berlanjut, aku semakin sering di luar, jarang di rumah. Semakin jauh dengan ibu. Semakin jarang mengobrol dari hati ke hati. Hubunganku dengan ibu tidak jauh-jauh banget sih, tapi sekarang aku selalu berpikir, sebetulnya dulu aku bisa jauh lebih akrab. Lalu masa SMP ku selesai.

Selepas SMP, aku bersekolah di SMA di luar kota yang menerapkan program asrama. Kalian tahu,kan? Artinya aku tidak tinggal dengan ibu lagi. Syukurlah aku dikunjungi ibu beberapa bulan sekali. Ditelpon dan sms beberapa kali seminggu. Dan aku hanya pulang pada libur semesteran saja. Oia, lebaran juga pulang ding🙂

Seiring dengan kedewasaan berpikir yang bertambah, aku mulai merasa ada yang kurang. Aku iri melihat teman-teman yang dikunjungi ibunya setiap minggu. Aku mulai merasa sepi. Mulai merasa aku butuh sosok ibu yang ada bersamaku.

Aku mulai mengerti, aku sudah menyia-nyiakan waktuku. Sekian lama ibu bersamaku, dan aku tidak mau merasakan kehadirannya. Akulah yang tidak mau. Akulah yang memilih menghabiskan waktu bersama teman dibanding dengan ibu. Akulah yang tidak ingin dekat dengan ibu.

Lalu aku memasuki bangku kuliah. Rasa sepi itu ibarat tetesan air yang lama-lama melubangi hati. Membuat lubang yang besar dan semakin besar. Aku merasa perih yang amat. Aku merasa butuh, butuh melihat wajahnya setiap hari. Butuh menyalami tangannya, menciumi mukanya yang letih, memeluknya dengan erat. Aku merasa butuh membantunya mengurus rumah, menyiapkan makanan, mengurus keperluannya, keperluan adik, dan urusan rumah tangga. Bukan karena memang harus, tapi jujur, aku merasa butuh melakukan itu semua.

Bukan untuk membalas jasa, karena apalah artinya itu semua dibandingkan apa yang sudah ibu korbankan.

Sering, sering sekali aku merasa kosong. Aku ingin sekali tinggal bersama ibu lagi, menemani dan membantunya, tidak hanya pada saat liburan seperti yang 4 tahun belakangan ini kulakukan.

Dan hari itu, dikala ibu mengirimkan sms sakti itu, terputarlah semua memori tentang ibuku. Kasih sayangnya yang tak bertepi, pengorbanannya, tulus hatinya, dan tentu perhatiannya yang kadang tak nyata, tapi dalam terasa🙂

Allahku, jagalah ia selalu🙂

Dan ibu, tunggu aku pulang ya. Akan kubayar lunas semua penyesalanku, insyaAllah🙂