Posts from the ‘renungan.’ Category

Allah, ajari aku caranya menghamba..

Kembali hati ini mempertanyakan, apakah takdir itu? Seperti apa rupanya?
Seperti apa takdirku? Jalan gelap kelam berliku ataukah akan ada ujung yang cahayanya cerah?

Pena telah diangkat. Tinta telah kering.
Ya, aku tau.
Lalu mengapa hati ini tidak selalu lapang akan ketetapanNya?

Seperti hari-hari ini.
Ketika segala telah tampak sempurna, tapi Dia menghendaki berbeda. Maka jadilah sesuai inginNya.

Dan apalah hak kita untuk menentang, satu sisi hati berbicara.
Tapi bukankah seharusnya begini dan begitu…? Kata suara dr sisi hati yg lain .

Mungkin hanya soal persepsi dan rasa. Maka ampunilah jika persepsi dan rasaku belumlah sebenar seorang hamba.

اَللّهُ, ajari aku caranya menghamba
Agar tegar hatiku ketika mengeja tiap huruf yang kau takdirkan untukku…

Posted with WordPress for BlackBerry.

Pertanyaan Tentang Cinta

Apakah cinta
selalu menyediakan airmata?

Apakah cinta
selalu menyediakan harapan?

rindu yang berdenyut di nadi
rela dan maaf di sanubari,
uluran tangan tanpa pamrih
kurasa itu cinta

dan ketika kau memutuskan
untuk memeluk Tuhan
di sepanjang jalan berliku
kurasa itu paling cinta

(Abdurrahman Faiz, 2003)

saatnya pembuktian..

saya terhenyak.

barusan saya sedang membaca-baca tulisan beberapa teman, teman yang saya kenal..dan juga yang saya tidak kenal..banyak sekali inspirasi, banyak sekali yang membuat saya iri..amalan mereka, ilmu mereka..pembuktian mereka..

aduh. nafas saya sesak. lalu saya merenung-renung, lalu saya membanding-bandingkan..lalu membiarkan otak saya yang belum banyak dipakai ini berkelana begitu jauhnya..lalu beberapa saat kemudian saya suruh dia kembali ke alam sadar saya.

saya tercekat.

jantung ini berdetak hampir 20 tahun sudah, dan saya belum menjadi apa-apa.

semakin terasa..belum menjadi apapun jua..

rasanya stagnan, tanpa perbaikan..atau mungkin makin memburuk?

bagaimana ibadah harianku?

bagaimana hafalanku?

bagaimana amalku?

bagaimana akhlakku?

bagaimana sedekahku?

bagaimana..? bagaimana? bagaimana?

maka bersegera saya mengambil agenda dan pulpen, lalu lincah menuliskan kata-kata..rencana..mimpi..dan langkah pertama..

SAYA HARUS BERUBAH.

SAYA HARUS BERUBAH.

SAYA HARUS BERUBAH.

waktu itu berlalu sedemikian cepatnya, saya harus segera bergegas..kalau tidak ingin terlibas.

teringat perkataan ibnu mas’ud..

“tidak ada yang lebih aku sesali daripada penyesalanku terhadap hari dimana ketika matahari tenggelam, saat umurku berkurang tetapi amalku tidak bertambah.”

Baiklah, Allaah, saksikanlah..

saatnya pembuktian ^^

“wahai anak Adam, sesungguhnya kamu adalah kumpulan dari hari-hari. Jika berlalu satu hari berlalu juga satu bagian dari dirimu.”

Al Hasan Al Bashri

Saudaraku, tahan amarahmu..

“Orang yang kuat itu bukanlah yang menang dalam bergulat tetapi orang yang kuat adalah yang mampu menahan nafsu amarahnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ternyata, merekalah orang yang terkuat..

Saya mengamati, begitu banyak orang yang tidak bisa menahan amarahnya. Bahkan mungkin saya sendiri pun begitu. Begitu mudah kita marah bahkan hanya untuk hal-hal sepele, hal yang kecil saja. Mungkin kemarahan kita tidak kita lafazkan, mungkin kita tidak berteriak, tidak mengumpat, tetapi dengan raut muka yang masam dan caci maki di hati, apa bedanya??

Tidak sengaja kaki terinjak oleh orang-orang di antrian, kita marah. Teman kita tidak memperhatikan apa yang kita ucapkan, kita marah. Jalanan macet, kita marah. Dosen ngaret, kita marah. Pengemis mengiba sampai sedikit mengganggu, kita marah.

astaghirullaah..

Siapakah kita?

Rasulullah saja tidak pernah marah untuk hal-hal sepele semacam ini. Saat seorang arab badui kencing di masjid, apakah Beliau marah? saat Beliau dilempari kotoran oleh orang-orang musyrik, apakah Beliau marah? Tidak sama sekali.

Suatu saat Ibnu Mas‘ud ra berkata,

Rasulullaah SAW bercerita tentang seorang nabi dari nabi-nabi terdahulu. Nabi tersebut dipukul oleh kaumnya sehingga wajahnya mengucurkan darah. Nabi tersebut mengusap darah di wajahnya sambil berkata, ‘Ya Allaah, ampunilah kaumku ini karena mereka memang tidak mengerti (HR. Bukhori dan Muslim)

Subhanallah..indahnya jika banyak orang di dunia ini mampu menahan amarahnya. Teladanilah Rasulullaah, Beliau hanya akan marah pada hal-hal yang juga dibenci oleh Allah, Beliau hanya akan marah pada apa saja yang akan membuat Allah murka. Cara beliau marah-pun, tentu saja jauh lebih mulia dari perangai kita.

Apakah marah yang tidak jelas seperti yang sering dilakukan orang-orang bahkan mungkin kita juga akan membuat kita menjadi superior? Apakah marah membuat kita menjadi lebih hebat? Tidak ada yang sependapat, saya kira. Marah hanya akan memperlihatkan kekerdilan akhlak. Hanya akan memperlihatkan ke-tidak stabilan dan belum matangnya pemikiran.

Adakah gunanya marah?

Perihal marah ini sepertinya sangat sepele. Tetapi, ternyata bisa berakibat fatal juga lo. Bisa merusak ukhuwah, bisa membuat pandangan orang terhadap kita menjadi berubah, bisa menyulut api permusuhan berikutnya, bahkan bisa berujung kepada pembunuhan, dan masih banyak lagi. Tentunya kita pernah melihat adegan marah tak layak  yang banyak dipertontonkan, entah itu di dunia persinetronan ataukah adegan nyata di sidang-sidang para pejabat terhormat.

Adakah manfaatnya? tidak ada sama sekali. menghilangkan rasa kesal pun tidak.

Lalu apa kita tidak boleh marah?

Marah memanglah sifat manusiawi, tetapi ia harus kita kontrol, harus kita latih, agar penempatannya sesuai koridor syar’i. Kita boleh marah, jika ada yang menghina Allah atau Nabi kita. Kita boleh marah, jika ada yang menghina agama kita. Tetapi perlukah kita marah kalau ada teman yang membantah pendapat kita? Kalau ada barang kita yang tertinggal di taksi karena keteledoran teman kita? Tentu tidak ada faedahnya.

Syeikh Imam al-Ghazali, dalam Kitab Ihya’ Ulumuddin nya mengatakan, “Barangsiapa tidak marah, maka ia lemah dari melatih diri. Yang baik adalah, mereka yang marah namun bisa menahan dirinya.”

Ternyata marah adalah hal yang dibolehkan. Tinggal bagaimana kita mengekspresikan rasa marah tersebut dan juga karena apa kita marah. Menahan amarah memang susah, tapi sungguh, tidak perlu kita membesar-besarkan suatu hal. Kalau memang kita tidak suka, ya sudah biarkan saja. Tenang saja, dunia ini cuma sebentar, kok! tidak usah terlalu pusing.

Lagipula, menahan marah adalah wasiat dari Baginda Rasul, lho..

“Dari Abu Hurairah r.a, bahwa seseorang berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam: Berwasiatlah kepadaku. Beliau bersabda: Jangan menjadi seorang pemarah. kemudian diulangi beberapa kali. dan Beliau bersabda: Janganlah menjadi orang pemarah” (HR. Bukhori)

Lantas harus bersikap seperti apa?

Saudaraku, jika ada hal-hal yang memang tidak menyenangkan buatmu, terimalah. Jika ada yang menghujat, biarkanlah dulu. Jika ada yang memfitnah lalu orang-orang menjadi berprasangka, diamkan saja. Bukankah Rasul telah mencontohkan?

Lalu berpikir baiklah. Berprasangka mulialah. Mungkin itu semua hanya karena ketidaksengajaan dan ketidaktahuan mereka.

Jika semua itu menyakiti hatimu, dan kamu benar-benar hendak marah, tahan. Tahan. Bernapaslah yang dalam, dan duduklah. Tenangkan dan berpikirlah secara luas. Berwudhulah. Beristigfarlah. Lalu maafkanlah, apapun yang sudah dilakukan oleh mereka.

Perlahan, lupakan kesalahan orang lain. Tidak usah diingat dan diungkit lagi, karena hanya akan membangkitkan rasa marah itu kembali. Pikirkanlah, marah hanya akan memperpanjang persoalan dan menghabiskan tenaga, lebih baik kita menyelesaikan banyak urusan lain yang jauh lebih penting.

Mengadulah kepada-Nya, Dia akan menjawab segala gelisahmu. Transformasikan amarah  menjadi energi yang disalurkan kepada hal yang bermanfaat, agar kita  menjadi lebih baik. Jadilah orang yang kuat. Jadilah orang yang membenci sesuatu bukan karena hawa nafsu, tetapi karena Allah semata.

Karena marah hanyalah godaan syetan. Karena marah hanyalah akan menjadi jalan menuju dosa. Karena marah akan menjadi pemutus silaturahmi. Karena marah hanyalah akan menjadi titik hitam dalam hati.

Masih ragu menahan amarah?

Simak apa janji Allah SWT disini..

Al Imam Ahmad meriwayatkan hadits dari Anas Al Juba’i , bahwa Rasulullah Saw bersabda : “Barangsiapa yang mampu menahan marahnya padahal dia mampu menyalurkannya, maka Allah menyeru pada hari kiamat dari atas khalayak makhluk sampai disuruh memilih bidadari mana yang mereka mau.” (HR. Ahmad dengan sanad hasan)

yuk, berusaha menjadi orang terkuat..yang mampu mengendalikan amarah, mampu melupakan kesalahan yang lain dan tentu saja mudah memaafkan..

* ditulis setelah menyaksikan kemarahan dari beberapa orang akhir-akhir ini..Rabbi..jagalah hatiku..jagalah hatiku..

untuk yang pernah mendapatkan kemarahan dari saya, maafkan ya ^_^

Kisah Kehidupan dan Kematian…

..Nampaknya kematian masih saja menghantui benakmu. Kamu membayangkan kematian ada dimana-mana, bersembunyi dibalik setiap yang ada. Bagimu, ia seolah-olah suatu kekuatan dahsyat yang mengancam kehidupan dan semua yang hidup. Sehingga jika dibandingkan kematian, kamu melihat kehidupan ini sebagai sesuatu yang kecil, namun menggelisahkan dan menakutkan.

Secara pribadi, kulihat kematian bagai kekuatan kecil dan letih disisi kekuatan
kehidupan yang meluap-luap, bergejolak, dan riuh gemuruh. Kematian nyaris tidak berdaya untuk berbuat sesuatu, kecuali mencomot sisa-sisa yang terjatuh di meja makan tipu daya untuk dimangsanya.
Jangkauan kehidupan yang melimpah itu, berpekik riuh dari setiap sudut
disekelilingku. Semua nampak tumbuh, mekar dan berkembang. Ibu-ibu mengandung dan melahirkan, demikian juga hewan. Burung, ikan dan serangga melepaskan telurnya dan kemudian telur-telur itu mentas menjemput kehidupan dan makhluk hidup lainnya.

Bumi merekah, mengeluarkan tumbuh-tumbuhan, kemudian berkembang dan berbuah.
Langit mencurahkan hujan, lautan menggulung-gulungkan gelombangnya. Semua yang ada di permukaan bumi tumbuh, dan berkembang biak.
Sesekali kematian menerkam dan merobek-robek mangsanya, lalu pergi. Atau adakalanya ia bersembunyi mengintai makanan yang jatuh dari meja makan kehidupan untuk dimangsanya. Sementara kehidupan berjalan terus, penuh semangat menyala-nyala, seolah-olah tidak melihat kematian itu.

Memang adakalanya kehidupan itu berteriak kesakitan, yaitu ketika kematian
menerkam dan mengoyak tubuhnya. Akan tetapi, alangkah cepat sembuhnya luka-luka itu, dan alangkah cepatnya teriak kesakitan itu berubah menjadi teriak suka cita.

Manusia, hewan, burung, ikan, ulat, serangga, rumput dan pepohonan, semuanya berdesakan memenuhi permukaan bumi ini dengan kehidupan dan makhluk hidup. Sedangkan kematian bersembunyi disudut sana, menerkam mangsanya dan berlalu…atau menantikan sisa makanan yang jatuh dari meja makan kehidupan untuk dimangsanya.

Matahari terbit dan terbenam, bumi berputar-putar di porosnya, sementara
kehidupan mereka disana-sini. Segala sesuatu berkembang, berkembang dalam ragam dan macamnya, berkembang dalam kualitas dan kuantitasnya. Kalau sekiranya kematian itu mampu melakukan sesuatu, pastilah kafilah kehidupan ini akan terhenti. Ternyata ia hanya suatu kekuatan kecil dan letih, disamping kekuatan kehidupan yang meluap-luap, bergejolak dan riuh gemuruh.
Bersumber dari kekuatan Allah yang Maha Hidup, kehidupan itu merekah dan
menyebar…

(dikutip dari Risalah ila Ukhti al-Muslimah, Risalah untuk Ukhti Muslimah – Sayyid Quthub)

yang mau baca lebih lanjut, mangga download http://blog.re.or.id/free-download-ebook/pdf/risalah_untuk_ukhti_muslimah-sayid_quthb.htm

jika..

Jika kau merasa besar, periksa hatimu, mungkin ia sedang bengkak.


Jika kau merasa suci, periksa jiwamu, mungkin itu putihnya nanah dari luka nurani.


Jika kau merasa tinggi, periksa batinmu, mungkin ia sedang melayang kehilangan pijakan.


Jika kau merasa wangi, periksa ikhlasmu, mungkin itu asap dari amal shalihmu yang hangus dibakar riya’…


– from my beloved friend..fyuuh sungguh menyentuh 🙂

awas!

sadarkah kita, tiap detik yang dilalui akhirnya adalah untuk menggenapkan janji??

ayo semua bersiap.

—“Orang yang cerdas ialah orang yang mengendalikan dirinya dan bekerja untuk kehidupan setelah kematian.” (HR Tirmidzi)